Seorang mukmin mestinya tetap akan senantiasa melakukan berbagai amalan kebajikan yang lain seperti bersedekah, membaca Al Quran, dan lain sebagainya meski sudah di luar bulan Ramadhan.
Melanjutkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan Ramadhan menandakan diterimanya shiyam Ramadhan, karena apabila Allah ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya.
Seorang salaf berkata, “Barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.”
Jangan sampai kita menjadi seperti perempuan gila yang tinggal di Mekah pada zaman dahulu, namanya Riithah bintu Amru. Dia telah memintal benangnya seharian penuh dengan pintalan yang kuat, lalu dia menguraikan kembali pintalannya itu. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Ùˆَلاَ تَÙƒُونُوا ÙƒَالَّتِÙŠ Ù†َÙ‚َضَتْ غَزْÙ„َÙ‡َا Ù…ِÙ†ْ بَعْدِ Ù‚ُÙˆَّØ©ٍ Ø£َÙ†ْÙƒَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.. (QS. An-Nahl: 92)
Apa yang kita katakan terhadap seorang perempuan yang duduk selama sebulan penuh membuat baju dari wol dengan alat tenun, hingga mendekati selesai pembuatan baju itu dia membongkar dan merusak tenunan yang telah dia buat?.
Perumpamaan ini menggambarkan kondisi sebagian kita, sebulan penuh dia hiasi hari-harinya dengan berbagai amal shalih, namun begitu berlalu bulan Ramadhan begitu cepatnya dia kembali kepada perbuatan dosa dan maksiat. Wal ‘iyadzu billah.


0 Komentar