KEADILAN HAKIKI, DI AKHIRAT NANTI

Tantangan terbesar seseorang untuk bersikap adil adalah dirinya sendiri, baik ketika dalam keadaan lemah, tidak berkuasa, maupun tatkala kuat dan memegang kekuasaan.
Tantangan itu semakin berat ketika segala sesuatunya telah tersistem, tidak lagi refleksi sifat personal tetapi menjadi kesepakatan.
Kezhaliman tidak lagi perilaku individu tetapi perilaku kolektif. Seseorang yang berhiaskan sifat adil pada saat itu, seolah menjadi manusia yang serba salah. Dia harus memilih untuk melepas sifat adilnya atau berubah total menyesuaikan diri dengan lingkungan kezhaliman, atau dia terlempar dari pusaran.
Kemuliaan dan pahala besar akan didapat oleh pemimpin yang adil. Nabi menyebutkan tentang tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah di hari kiamat, yang menempati urutan pertama adalah 'imaamun adilun', pemimpin yang adil.
la pantas mendapatkannya, bukan sesuatu yang mudah, tatkala seseorang memiliki kekuatan, kekuasaan pada batas tertentu, namun ia bisa berbuat adil dan tidak semena-mena kepada rakyatnya.
Sebaliknya, neraka siap melahap pemimpin yang tak mau berbuat adil. Diriwayatkan oleh Muslim, bahwa jannah dan neraka berdebat, lalu neraka berkata, 
ÙŠَدْØ®ُÙ„ُÙ†ِÙŠ الْجَبَّارُونَ ÙˆَالْÙ…ُتَÙƒَبِّرُونَ

“Orang-orang yang semena-mena dan sombong akan memasukiku.” (HR Muslim)
Siapapun kita, janganlah merasa aman dari ancaman ini, karena masing-masing kita adalah pemimpin, memiliki potensi untuk sewenangv wenang.
Adil, bagi pribadi adalah keselamatan, sedangkan bagi khalayak adalah jaminan kebaikan. Demikian pentingnya keadilan, dan begitu besar maslahatnya bagi kehidupan, hingga tak seorang pun kecuali pasti merindukan keadilan. #SidangMK

Posting Komentar

0 Komentar