Di samping rumahnya, Karjo bahkan menyewa lahan khusus untuk sampah kering yang dibelinya dari beberapa pabrik, salah satunya PT Pakerin. Ia mengaku membayar sewa lahan sebesar Rp1 juta dalam satu tahun. Lahan itu juga dipakai bersama anaknya yang berprofesi sama dengannya.
"Ini (lahan) sewa. Rp1 juta satu tahun, ya dibagi sama anak,"
kata Karjo.
Untuk sampah kering, Karjo tak mendapatkannya secara cuma-cuma. Ia harus merogoh kocek Rp50-100 ribu untuk menebus satu ikat sampah berbentuk bola (1 bal).
"Sampahnya ya beli ini, gak mesti harganya, Rp50-100 ribu, dari (pabrik) nanti pesan minta dikirim, macam-macam (sampahnya) dari luar (negeri)," ucap Karjo.
Benar apa yang dikatakan oleh Karjo, sampah yang menumpuk di lahan yang telah disewanya itu memiliki merek dari luar negeri. Ada bungkus plastik asal Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, bahkan kertas bertuliskan bahasa Belanda. Tak hanya itu, ada sepatu merek Tommy Hilfiger yang ternama dari New York, Amerika Serikat.


0 Komentar